Humaniora

Humaniora
Publish Your Articles in the Journal Apero Fublic of Humaniora

HUKUM: Pemaknaan Hikayat Si Pencuri Yang Belajar Shalat

HUKUM: Pemaknaan Hikayat Si Pencuri Yang Belajar Shalat
Share

JAF. HUMANIORA.- Dahuluh ada seseorang laki-laki yang menuntut ilmu untuk mencuri. Akhirnya dia ahli dalam hal mencuri. Asal angin masih bisa masuk rumah seseorang, berarti dia pun dapat memasuki rumah tersebut. Untuk menghidupi keluarganya, dari hasilnya mencuri. Namun ada satu hal yang kurang, bertahun-tahun hidup berumah tangga dengan istrinya dia tidak mendapatkan seorang anak pun.

Kehidupannya begitu-begitu saja, apa bilah uang habis dia pergilah mencuri. Bertahun-tahun lamanya yang dia lakukan hanya demikian saja. Timbul rasa bosan dalam kehidupannya yang hanya mencuri saja. Kini timbul di dalam hatinya untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah. “Ingin sekali rasanya aku shalat.” Kata hatinya. Keinginannya itu dia ceritakan pada istrinya.

“Istriku, sekarang Aku ingin sekali beribadah, mengerjakan perintah Allah, shalat. Tapi aku tidak mengerti dan tidak tahu bagaimana caranya shalat.” Katanya pada sang istrinya. Istrinya juga tidak mengerti, dia menyarankan agar suaminya pergi belajar ilmu agama. Akhirnya si Pencuri mantap untuk memutuskan pergi belajar ilmu agama. Keesokan harinya istrinya menyiapkan bekal untuk bekal perjalanannya. Setelah pamit dengan istrinya, dia pergi.

Zaman dahulu pemukiman tidak seperti sekarang, sedikit sekali. Yang lebih banyak adalah hutan rimba yang lebat. Si Pencuri berjalan keluar masuk rimba, tanpa tujuan yang pasti. Dia hanya menurutkan langkah kakinya saja. Lama sudah berjalan berminggu-minggu lamanya. Suatu hari dia menemukan sebuah bukit cukup tinggi. Di atas bukit terdapat sebuah gubuk tua. Yang dihuni oleh seorang lelaki tua. Sesampai di depan gubuk reyot itu dia mengucapkan salam.

“Assalamualaikum.” Ucap si Pencuri.

“Waalaikumsalam.” Terdengar jawaban dari dalam gubuk, dari suaranya yang berat tentu sudah sangat tua. Dia mempersilahkan si Pencuri untuk masuk dan menjamunya. Dalam perbincangan itu, mereka saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Setelah saling mengenal dan mengetahui keadaan satu sama lain. Si Pencuri juga menceritkan kalau pekerjaan dan keahliannya adalah mencuri. Bertanyalah sang kakek penghuni gubuk itu.

“Apa tujuanmu Nak, sampai engkau berjalan sejauh ini?.” Tanya si Kakek tua.

“Begini Tengku, saya berjalan sejauh ini karena ada keinginan yang besar dari hatiku.” Ujar si Pencuri.

“Keinginan apa, Nak?.” Tanya si Kakek.

“Saya ingin belajar ilmu agama, Tengku.” Jawabnya malu. Sebab sudah setua itu dia tidak pernah belajar ilmu agama.

“Tentang ?.”

“Belajar ilmu agama terutama, belajar shalat. Sejak dari kecil saya belum pernah shalat. Sebelum ajal menjemput saya ingin di sisa usia saya untuk mengerjakan shalat.” Jelas si Pencuri.

“Oh, begitu. Kalau begitu belajarlah padaku. Tidak ada kata terlambat dalam belajar.” Kata orang tua itu. Si Pencuri akhirnya belajar dengan tekun. Selama berbulan-bulan dia akhirnya bisa mengerjakan shalat. Dari rukun, bacaan, niat, cara gerakan shalat sudah dia kuasai. Suatu hari berkatalah si Pencuri pada gurunya.

“Tengku, saya ini Cuma satu masalahnya.” Kata si Pencuri terputus.

“Apa masalahmu.” Tanya orang tua.

“Hal yang semacam tidak bisa saya tinggalkan.” Kata si Pencuri agak tertunduk.

“Oh, itu pekerjaan kamu?.” Kata orang tua itu, dia mengerti pekerjaannya sebagai pencuri.

“Iya.” Jawab si Pencuri singkat.

“Tidak ada, lakukanlah pekerjaan kamu itu. Cuma jangan lupa amanahku saja.” Kata gurunya.

“Apa kiranya amanah, Tengku?.” Tanya si Pencuri.

“Sekarang kamu sudah belajar ilmu shalat dan sudah bisa melaksanakan shalat. Jadi, apa bilah waktu shalat tiba. Jangan kamu hiraukan yang lain. Harus mengerjakan shalat segera.” Kata si orang tua.

“Oh, baiklah kalau begitu, insya Allah.” Jawab si Pencuri. Pagi besoknya si Pencuri pamit untuk pulang. Beberapa waktu lamanya berjalan dia pun akhirnya tiba di rumahnya kembali. Dengan bahagia dan rasa rindu pada istrinya dia mengucap salam di depan pintu rumahnya. Setelah makan dan minum, berbincang-bincanglah suami istri yang sudah lama berpisah itu.

“Abang, sudah lama sekali perginya. Sehingga uang belanja kita sudah habis.” Kata istrinya.

“Jangan gusar, nanti saya akan mencari uang seperti biasanya.” Jawab si Pencuri.  Setelah badan tidak lagi letih, dia kemudian pergi ke pasar. Dia melihat sebuah rumah orang kaya. Di dalam hatinya dia berkata, “Disinilah aku akan mencuri nanti malam.” Setelah mengamati dia kemudian pulang, dan hari pun malam. Terdengar azan shalat isyah dia mengerjakan shalat isyah. Kemudian membaca doa dan ayat-ayat yang dia baca. Rencana mencurinya agak lewat tengah malam. Dia berjalan menuju rumah incarannya, tiba disana waktu sudah pajar.

Dia mendekati pintu dapur, kebetulan juga pintu dapur oleh pemiliknya lupa menguncinya. Sebelum masuk rumah si Pencuri membaca mantra mencurinya agar tidak ketahuan. Saat berjalan semua kunci-kunci yang ada di dalam rumah terbuka. Dia melihat pemilik rumah tertidur dengan pulas. Dia menemukan peti emas, dan peti uang emas dan perak. Dengan susah payah dia menggotong peti emas dan peti uang ke luar rumah. Namun tiba-tiba terdengar kokok ayam jantan pertanda hari sudah subuh. Diikuti dengan suara beduk dan azan di masjid tapi tidak terdengar. Karena dulu belum ada pengeras suara. Namun kokok ayam disubuh sangat ramai bersahut-sahutan.

“Yah, sudah waktunya shalat subuh.” Gerutu si Pencuri. Dia teringat pesan gurunya agar jangan sekali-sekali melalaikan shalat. Oleh sebab itu, si Pencuri kemudian berdiri lalu berwudhu dan mengambil tikar. Lalu dia azan di dalam rumah orang itu. Pemilik rumah walau suara azan sangat keras belum juga bangun. Pada bagian “Assalatukhairum minannaum” barulah seisi rumah itu terbangun. Saat bangkit dan keluar kamar mereka.

“Yaaa Allah, mengapa pintu rumah kita terbuka. Orang asing ini azan di dalam rumah kita. Ahh, pasti rumah kita sudah dimasuki pencuri.” Kata suami pemilik rumah itu. Istri dan anggota keluarga yang lain juga sangat kaget. Mereka serentak melihat-lihat keluar rumah. Sementara si Pencuri selesai azan langsung shalat subuh. Di luar rumah mereka menemukan peti emas dan peti uang mereka tergeletak. Di lihat isinya masih seperti semulah tidak ada yang kurang.

“Ya Allah. Sangat beruntung kita, karena Tuan Syeikh itu masuk ke rumah kita untuk shalat. Bersamaan dengan pencuri keluar membawa harta kita. Karena terpergok Tuan Syeikh itu, lalu para pencuri itu berlari meninggalkan peti emas dan peti uang kita.” Kata dan pikir pemilik rumah. Sementara si Pencuri terus shalat dengan khusuk dan tenang. Tidak ada rasa takut saat pemilik rumah sudah bangun semua dan menungguinya sedang shalat subuh. Setelah mengucap salam, sedikit berbicara si Pencuri pamit untuk pulang pada pemilik rumah itu.

“Tuan Syeikh, mohon jangan pulang terlebih dahulu. Istri saya sudah mulai memasak dan membuat kopi. Marilah bertamu di rumah kami pagi ini.” Kata Pemilik rumah.

“Oh, baiklah kalau begitu.” Kata si Pencuri yang agak gugup. Setelah menunggu beberapa saat, kopi dan makanan siap. Mereka makan bersama-sama dengan hangat dan penuh keakraban selayaknya sudah kenal lama. Setelah makan, kembali si Pencuri pamit untuk pulang. Kembali pemilik rumah berkata pada si Pencuri yang dia anggap seorang alim ulama atau Syeikh.

“Begini Syeikh, barang kali subuh tadi ada pencuri yang masuk ke rumah. Karena peti emas dan peti uang kami sudah terletak di luar rumah.  Mungkin saat Tengku datang untuk shalat tadi, membuat para pencuri pergi takut ketahuan oleh Tengku.” Kata Pemilik rumah, didengarkan oleh istri dan anggota keluarganya yang lain.

“Ya, begitulah.” Jawab si Pencuri. Seraya manggut-manggut.

“Oleh karena itu, saya dan istri saya mau mengucapkan terima kasih. Kalau tidak ada Tengku mungkin kami sudah hidup melarat karena harta kami habis. Oleh karena itu, kami ingin membagi dua harta kami, untuk Tengku setengahnya.” Jelas pemilik rumah.

“Alhamdulillah kalau begitu, apakah kalian ikhlas.” Jawab si Pencuri. Pemilik rumah berkata ikhlas, dan sisa uang mereka dapat mereka modal kembali dan isnyaa Allah mereka akan mendapatkan rezeki kembali. Maka pulanglah si Pencuri membawa setengah dari uang pemilik rumah.

“Oh, begitu makna apa yang dikatakan oleh guruku. Maka, mulai saat ini Aku tidak akan mencuri lagi.” Pikirnya sepanjang jalan. Dengan uang itu si Pencuri dapat belanja beberapa tahun dan dia mulai merintis usaha lain. Dia bertobat dan tidak mau mencuri lagi.

Rewrite: Tim Apero Fublic.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 20 Juni 2021.
Sumber: Wildan, Abdullah Faridan, Sa’adiah, Mohammad Harun. Struktur Sastra Lisan Tamiang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998.

Sy. Apero Fublic

0 Response

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel